Y Apristianto · Head of Marketing · Alibaba.com · Indonesia

Kenneth Dwi Putra, SEA Buyer Growth Alibaba.com, menjelaskan mengapa kepercayaan adalah kunci membuka pesanan besar dari pasar internasional, bukan hanya harga.
Jakarta, 15 April 2026. Di sebuah ballroom yang dipenuhi ratusan pengusaha, eksportir, dan pegiat UMKM dari seluruh Indonesia, Kenneth Dwi Putra berdiri di atas panggung Trade Assurance Launch Indonesia. Layar di belakangnya menyala dengan satu kalimat yang langsung menarik perhatian: Inside the Buyer’s Mind. Lalu ia melempar pertanyaan yang membuat ruangan menjadi sunyi.
“Bayangkan Anda mentransfer puluhan ribu dolar, mungkin lima puluh ribu, mungkin lebih, ke supplier yang belum pernah Anda temui. Untuk barang yang belum bisa Anda sentuh. Dari negara yang berjarak ribuan kilometer. Apa yang Anda rasakan?”
Jawabannya hampir selalu sama: ketakutan. Ketakutan bahwa uang akan hilang. Ketakutan bahwa kualitas tidak sesuai. Ketakutan bahwa kontainer yang ditunggu-tunggu tidak akan pernah tiba. Itulah jauh sebelum perundingan harga atau daftar spesifikasi titik permulaan setiap perdagangan internasional.
Dan itulah mengapa, seperti yang dijelaskan Kenneth di hadapan peserta, tugas seorang penjual bukan sekadar menyediakan produk. Tugasnya adalah menghilangkan ketakutan itu.

Kita sering membahas ekspor dari sisi penjual: bagaimana menemukan buyer, cara menaikkan visibilitas, strategi negosiasi harga. Tapi jarang sekali kita berhenti sejenak dan bertanya: apa sebenarnya yang terjadi di benak buyer internasional saat mereka memutuskan untuk membeli dari Indonesia?
Di panggung tersebut, Kenneth menggambarkan sosok John Smith — seorang pembeli kopi yang sedang mencari Indonesian specialty coffee dalam jumlah besar untuk menyiapkan stok di beberapa toko yang akan segera dibuka. Ia menemukan profil supplier Indonesia yang menarik. Produknya kelihatan bagus. Harganya kompetitif. Tapi saat invoice USD 50.000 muncul di layarnya, jarak antara minat dan tindakan tiba-tiba terasa sangat jauh.
“Dia tidak kenal Anda,” kata Kenneth. “Dia tidak bisa mencicipi kopinya dulu. Dia tidak tahu apakah gudang Anda benar-benar ada, apakah pengiriman akan tepat waktu, atau apakah barang yang sampai nanti sama dengan sampel yang dikirim.”
Dalam sekejap, keputusan bisnis berubah menjadi lompatan kepercayaan, sebuah $50,000 leap of faith. Dan buyer seperti John tidak akan melompat kecuali mereka melihat sesuatu yang meyakinkan.

Sebelum bicara soal kepercayaan, ada satu kabar baik yang Kenneth tekankan: permintaan global terhadap produk Indonesia sedang tinggi-tingginya.
Data yang ditampilkan di layar menunjukkan pencarian aktual dari berbagai penjuru dunia. “Indonesian Specialty Coffee” dicari lebih dari 4.200 kali dalam sebulan dari New York. “Sustainable Teak Furniture” muncul 2.800 kali pencarian dari Dubai. “Natural Coconut Oil Bulk” ditemukan 3.100 kali pencarian dari Rotterdam.
Lebih dari itu, Indonesia menempati peringkat pertama dalam pencarian global untuk frasa “sustainable furniture supplier.” Di segmen sumber daya alam, kerajinan tangan, dan produk berkelanjutan, posisi Indonesia bukan hanya kuat, ia justru menjadi referensi utama.
Bagi UMKM dan produsen skala menengah, data ini bukan sekadar angka. Ia adalah bukti bahwa daya tarik produk lokal dari kopi Toraja hingga mebel kayu jati, dari minyak kelapa alami hingga kerajinan etnik sudah memiliki pasar yang menunggu di luar sana. Tantangannya bukan menciptakan permintaan, melainkan memastikan produk tersebut ditemukan oleh buyer yang tepat dengan cara yang tepat.
“Ini bukan soal apakah ada pasar,” kata Kenneth. “Pasar sudah ada. Yang menjadi pertanyaan adalah: ketika buyer tersebut mengetik kata kunci itu, apakah merek Anda yang muncul? Dan jika muncul, apakah mereka langsung merasa aman untuk menghubungi Anda?”
Itulah mengapa memahami pikiran buyer bukan lagi pelengkap dalam strategi ekspor. Ia adalah fondasi.

Salah satu wawasan paling menarik dari sesi Kenneth adalah bahwa buyer besar tidak berselancar seperti konsumen biasa. Mereka tidak membuka marketplace dan mengklik produk secara acak. Mereka memfilter terlebih dahulu.
Di ruang yang sama, ia menjelaskan profil buyer utama yang aktif di Alibaba.com: pedagang grosir dan reseller yang membeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali; produsen serta pembeli ODM yang mencari bahan baku atau komponen; tim procurement korporasi dari perusahaan menengah hingga besar; pengusaha e-commerce seperti penjual Amazon FBA, Shopify, dan dropshipper; importir serta distributor regional; hingga rantai retail yang mencari merchandise musiman atau niche.
Mereka adalah para pengambil keputusan. Mereka sibuk. Mereka punya anggaran, target, dan risiko yang harus dipertanggungjawabkan. Jadi ketika mereka mencari supplier, mereka tidak mencari yang termurah. Mereka mencari yang paling bisa dipercaya.
“Dalam perdagangan global modern,” tegas Kenneth, “safe mengalahkan cheap. Buyer akan membayar lebih mahal jika suppliernya berhasil mengurangi risiko.”
Kalimat itu mengubah cara pandang banyak peserta di ruangan. Bukan harga yang selalu menang. Bukan diskon terbesar yang menutup kesepakatan. Melainkan rasa aman.

Kenneth melanjutkan dengan apa yang ia sebut sebagai silent deal breakers — pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah diajukan secara langsung, namun menentukan apakah deal akan terjadi atau tidak.
Jika tiga pertanyaan itu tidak terjawab dalam hitungan detik saat buyer melihat profil Anda, kata Kenneth, kesepakatan hilang sebelum percakapan dimulai.
Dan inilah mengapa elemen-elemen seperti Gold Supplier, Trade Assurance, serta rating dan review bukan sekadar ikon di profil. Mereka adalah digital handshake jabat tangan virtual yang menjembatani jurang kepercayaan antara buyer dan supplier yang dipisahkan oleh samudra.
Di tengah sesi, Kenneth memperkenalkan kembali mekanisme yang telah melindungi jutaan transaksi di Alibaba.com, Trade Assurance.
Sejak diluncurkan pada 2015, Trade Assurance telah menjaga lebih dari 160 juta pesanan, melibatkan lebih dari 200 ribu supplier, dan mencakup lebih dari 280 juta produk. Saat ini, 37 juta buyer di seluruh dunia menggunakannya sebagai filter utama ketika mencari supplier di Alibaba.com.
Tapi angka-angka itu hanya setengah dari cerita. Yang lebih penting adalah apa yang dirasakan buyer: akses ke partner yang terverifikasi, pembayaran yang aman dari pesanan hingga pengiriman, perlindungan dari masalah kualitas dan keterlambatan, hingga mekanisme resolusi sengketa yang terintegrasi. Ditambah feedback nyata dari buyer global lain yang pernah bertransaksi, memungkinkan keputusan berdasarkan performa yang sudah terbukti.
“Trade Assurance bukan asuransi biasa,” kata Kenneth. “Ia adalah bahasa universal yang mengatakan kepada buyer: jika Anda bertransaksi dengan supplier ini, Anda tidak sendirian. Ada sistem yang memastikan kesepakatan itu dihormati.”
Bagi seller Indonesia, ini adalah perubahan paradigma. Anda tidak lagi berjuang sendirian meyakinkan buyer dari negara lain. Anda memiliki infrastruktur kepercayaan yang bekerja untuk Anda, asalkan Anda tahu cara menggunakannya.
Setelah memahami pikiran buyer, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana menerapkannya di bisnis Anda?
Saat sesi Kenneth berakhir, antrean pertanyaan dari peserta masih panjang. Bukan karena materinya rumit, tetapi karena setiap kalimatnya terasa seperti membuka mata.
Itulah yang membuat event seperti Trade Assurance Launch Indonesia menjadi lebih dari sekadar acara peluncuran. Ia adalah tempat strategi bisnis global diurai menjadi langkah-langkah konkret. Di sinilah pengusaha Indonesia belajar bahwa ekspor bukan hanya soal mengirim barang keluar negeri, tapi soal membangun kepercayaan yang cukup kuat untuk meyakinkan seseorang di ujung dunia menekan tombol Pay Now.
Bagi Anda yang tidak hadir di ballroom itu, kabar baiknya adalah: wawasan ini tetap bisa Anda akses. Platform, fitur, dan komunitas yang sama kini tersedia untuk seller Indonesia yang serius ingin berkembang di pasar global.
Dan jika ada satu pelajaran yang paling berharga dari sesi Kenneth, itulah bahwa kesuksesan ekspor tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling murah, tetapi oleh siapa yang paling dipercaya. Di pasar global yang semakin kompetitif, kepercayaan adalah mata uang paling bernilai.
Memahami pikiran buyer internasional adalah langkah pertama. Langkah berikutnya adalah memastikan bisnis Anda tampil sebagai pilihan yang aman, kredibel, dan siap bersaing.
Mulailah dari satu hal sederhana: pastikan profil seller Anda memiliki semua sinyal kepercayaan yang dicari buyer. Verifikasi, transparansi, dan perlindungan transaksi. Karena di era perdagangan digital, produk Anda mungkin memikat buyer, tetapi kepercayaan Anda yang menutup kesepakatan.
Jika Anda ingin mengubah ketidakpastian menjadi kepercayaan, dan ketakutan buyer menjadi pesanan berulang, inilah saatnya bergabung dengan ribuan seller Indonesia yang sudah membangun digital handshake mereka. Setiap hari, buyer seperti John Smith mengetik kata kunci yang bisa mengarah pada produk Anda. Pastikan bisnis Anda siap saat mereka menemukan Anda.
Bergabung dengan platform sourcing 200 juta+ pembeli global dan mulai perjalanan ekspor Anda

Platform perdagangan lintas batas B2B terkemuka di dunia, membantu bisnis berkembang secara global.